Rabu, 23 Mei 2012

Cara Menyimpan Mengamankan Registry Windows Dengan Registry Backup

Bagi pengguna Windows, Registry merupakan bagian yang sangat penting. Berbagai setting/konfigurasi windows termasuk mayoritas program disimpan didalamnya. Tidak jarang kerusakan windows disebabkan karena registry yang rusak. Oleh karena itu melakukan penyimpanan (backup) registry sangatlah penting.

Meskipun backup registry bisa saja dilakukan secara manual atau menggunakan fungsi windows RegSaveKey dan RegRestoreKey tetapi cara ini tidak direkomendasikan. Microsoft merekomendasikan untuk melakukan backup dengan menggunakan Volume Shadow Copy Service. Salah satu software gratis yang sudah menggunakan teknik yang direkomendasikan Microsoft ini adalah Registry Backup buatan Tweaking.com.  

============================================================
Volume Shadow Copy Service merupakan kumpulan COM APIs (Application Programming Interface) yang mengimplementasikan sebuah cara dan mengijinkan pengguna windows melakukan backup meskipun ada aplikasi lain di sistem yang masih melakukan baca tulis didalamnya.
 ============================================================

Backup Registry dengan menggunakan program ini sangat aman, karena selain menggunakan Volume Shadow Copy Service yang direkomendasikan windows, program ini juga tidak mengubah atau mengutak-atik file sistem windows.


Tersedia versi installer dan versi portable yang bisa kita gunakan langsung. Setelah download dan install (atau buka dan extract jika memilih versi portable), jalankan TweakingRegistryBackup.exe. Akan muncul tampilan utama Registry Backup. Sebelum melakukan backup, buka tab Setting dan atur dimana lokasi backup akan disimpan dibagian “Backup Location”. Jika sudah kembali ke menu (tab) Backup Registry. Klik tombol Backup Now untuk mulai melakukan proses backup yang biasanya hanya akan berlangsung beberapa detik saja.
Backup dapat dilakukan sesering mungkin, terutama penting dilakukan dalam beberapa kondisi seperti misalnya sebelum menginstall software baru, akan mengutak-atik registry, setelah pertama kali install windows, dan sebagainya.
Ketika windows ada masalah, maka kita bisa melakukan restore (mengembalikan keadaan registry) ke kondisi awal saat kita melakukan backup. Dengan program ini, restore registry bisa dilakukan melalui menu (tab) Restore Registry. Program ini dapat digunakan untuk Windows XP, 2003, Vista, 2008 & 7 (32 & 64 Bit).
Download   DISINI

Semoga membantu......

Senin, 21 Mei 2012

Download Software Pengolah Grafis GIMP 2.8 (Free)


Jika kita sering mengolah gambar (images) dan memerlukan software grafis dengan fitur lengkap seperti Photoshop tetapi gratis, mungkin GIMPadalah jawabannya. Dan berita bagusnya, beberapa hari yang lalu gimp.org baru saja merilis versi baru dengan berbagai fitur baru yang menarik.
GIMP (GNU Image Manipulation Program) merupakan salah satu pengolah grafis gratis (open source) yang paling populer. Selain menjadi salah satu editor grafis utama di Linux, tersedia juga installer untuk sistem operasi lain seperti Windows, Mac OS X, Sun OpenSolaris dan FreeBSD. Sehingga pengguna Windows (XP SP3, Vista, 7, 8) bisa memanfaatkan dan menggunakannya secara gratis.
Terakhir kali saya mencoba GIMP sudah cukup lama dan jarang dipakai, karena melihat penggunaannya agak rumit, terutama dengan tampilan masing-masing window (tool) yang terpisah, sehingga setiap saat harus menyesuaikan letak masing-masing tools tersebut. Apalagi yang sudah terbiasa menggunakan Photoshop, biasanya tidak nyaman dengan window yang terpisah tersebut.


Tetapi hal itu sepertinya akan mulai berubah sejak dirilisnya GIMP 2.8 pada awal Mei 2012 kemarin.Versi 2.8 ini membawa banyak perubahan dan kesan rumit sebelumnya sepertinya akan mulai hilang. Selain itu, jika kita mencari alternatif software sekelas photoshop (kaya dengan fitur editing) yang gratis, mungkin GIMP adalah jawabannya.

Berbagai fitur baru

GIMP 2.8 hadir dengan berbagai fitur baru, termasuk yang merupakan permintan utama dari pengguna sebelumnya. Berikut beberapa fitur baru GIMP 2.8 yang cukup penting:
  • Single-Window Mode, setelah sekian lama menggunakan window-window yang terpisah (toolbox, layer, editor utama dll), di versi 2.8 kita bisa memanfaatkan fitur single-window mode. Dengan fitur ini, semua tool akan menempel pada aplikasi utama, seperti halnya Photoshop. Fitur ini dapat diaktifkan melalui menu Window > Single-Window Mode.
  • Multi-Column Dock Window, memungkinkan menampilkan banyak window (tool) dalam kolom dengan drag & drop. Fitur in sangat bermanfaat bagi monitor yang lebar maupun multi monitor.
  • Save and Export tampil dalam menu terpisah untuk memudahkan
  • Layer Groups, untuk menyatukan dua layer atau lebih ke dalam group, sangat bermanfaat jika bekerja dengan banyak layer dan perlu pengelompokan.
  • On-Canvas Text Editing, fitur untuk mengedit text langsung di canvas (gambar), tanpa harus menampilkan window terpisah seperti di versi sebelumnya.
  • Simple Math In Size Entries, kita bisa memasukkan operatir matematika seperti penjumlahan, perkalian ketika mengubah ukuran image.
Itu hanya beberapa fitur baru di versi 2.8 ini, dan masih banyak fitur lainnya yang semakin memperbaiki kualitas software ini, sedangkan untuk berbagai fitur lebih lengkap tentang GIMP, silahkan menengok halaman features
Setelah menginstall dan mencoba GIMP 2.8 di Windows 7, ternyata cukup berbeda dengan GIMP yang pernah saya coba sebelumnya, penggunaannya terasa lebih mudah, proses pengolahan gambar relatif cepat, penggunaan tool-tool semakin mudah. Salah satu menu mirip photoshop yang cukup bermanfaat tetapi belum disertakan dalam installasi bawaan adalah “save for web” (optimasi menyimpan gambar untuk web dengan ukuran minimal).


Dengan di rilisnya versi ini, sepertinya saya akan mulai beralih menggunakan GIMP dari sebelumnya yang selalu tergantung dengan Photoshop (yang semakin membutuhkan spesifikasi komputer yang tinggi, belum lagi untuk mendapatkan linsensi harganya masih cukup fantastis).
Ingin mencoba? kunjungi halamannya DISINI

Memperbaiki Berbagai macam file atau dokumen yang rusak

Kerusakan dokumen atau file yang ada di komputer kadang bisa terjadi karena berbagai sebab. Jika itu terjadi dan kita tidak bisa membuka file dengan aplikasi seperti biasa, ada salah satu aplikasi atau program gratis (freeware) yang bisa kita coba untuk memperbaikinya, yaitu File Repair.
File rusak bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya listrik yang bermasalah (tiba-tiba mati misalnya), koneksi jaringan yang bermasalah (ketika download file), infeksi virus, program aplikasi error dan lainnya. Jika kerusakan file belum parah, kita bisa mencoba memperbaiki dengan salah satu software gratis ini File Repair.
<
 File Repair dibuat dengan satu tujuan, untuk memperperbaiki file rusak dan mencoba semaksimal mungkin untuk mengambil data yang memungkinkan masih terbaca. Jenis file yang didukung yaitu :
  • Word documents (.doc, .docx, .docm, .rtf)
  • Excel spreadsheets (.xls, .xla, .xlsx)
  • Zip or RAR archives (.zip, .rar)
  • videos (.avi, .mp4, .mov, .flv, .wmv, .asf, .mpg)
  • JPEG, GIF, TIFF, BMP, PNG or RAW images (.jpg, .jpeg, .gif, .tiff, .bmp, .png)
  • PDF documents (.pdf)
  • Access databases (.mdb, .mde, .accdb, .accde)
  • PowerPoint presentations (.ppt, .pps, .pptx)
  • Audio (.mp3, .wav)
Sedangkan daftar error yang mungkin masih bisa diperbaiki antara lain :
  • file is not in a recognizable format, atau format file tidak dikenali oleh aplikasi
  • unable to read file, aplikasi tidak bisa membaca file
  • file cannot be accessed, file atau dokumen tidak bisa diakses
  • application cannot open the type of file represented by filename, aplikasi tidak bisa membuka tipe file dengan nama file tersebut
  • out of memory errors, or low system resources errors (error bermasalah dengan memory atau memory sistem yang kecil)
Melihat fungsinya memang aplikasi ini patut dicoba bagi yang sedang mengalami masalah dengan file-filenya yang rusak. Tetapi tidak semua file rusak bisa diperbaiki, jika memang kerusakan sudah parah atau isi file sudah diacak-acak oleh virus, kemungkinan file tidak akan bisa diperbaiki sama sekali.

Penggunaan program ini sangat mudah, tinggal kita klik tombol dengan titik tiga untuk membuka file, kemudian klik tombol Repair. Jika proses berhasil, maka file akan diperbaiki dengan nama seperti yang ada di bagian Output fixed file as. Aplikasi ini hanya bisa digunakan untuk memperbaiki file satu persatu.
Jika File Repair tidak bisa memperbaiki file yang rusak, mereka juga menerima kiriman file rusak melalui email untuk dicoba diperbaiki selama 1-24 jam. Jika bukan data yang sangat penting (sensitif atau rahasia), dokumen bisa dikirim ke email repair@filerepair1.com.

Tips tambahan

Ada tips lain yang mungkin bisa dicoba ketika File Repair tidak bisa membuka file tersebut. salah satunya dengan mengganti ekxtensi file dengan yang lainnya. Misalnya file yang rusak adalah Excel ( ekstensinya .xls ), bisa kita coba dengan mengganti .doc (atau ekstensi lainnya) dan buka dengan Microsoft Word (atau aplikasi lain), cara ini mungkin masih bisa membaca sebagian isi file. Tetapi hal ini tidak akan bisa untuk dokumen dengan ekstensi docx, xlsx dan pptx.
Download DISINI cuma (1.02 MB)

Semoga membantu agan semua.

Jumat, 27 April 2012

Download Pakta Integritas Pengawasan Kepala Sekolah Baru

Untuk membasmi KKN (Korupsi, Kolusi & Nepotisme) sekarang ini pemerintah gencar melakukan langkah pencegahan... Salah satunya untuk membuat Pakta Integritas bagi guru-guru disekolahan yang memiliki kepala sekolah baru.
Bagi guru dan staf sekolah tersebut harus membuat Surat Pernyataan Integritas, untuk mengawasi dan patuh serta membantu Kepala sekolah tersebut dalam menjalankan tugasnya.


Pernyataan Pakta Integriras

Data Nama Guru-Guru

Ini sudah AJ buat dengan Mail Marge..... jadi bagi yang membutuhkan tidak merubah saja data-data guru dibawah.

Semoga membantu dan Wassalam.............

Kamis, 26 April 2012

Download Defragment Hardisk

Ketika hardisk di komputer mulai terasa lambat di akses atau sudah penuh dengan berbagai macam software yang di install, ada saatnya kita mulai men-defragmentasi hardisk tersebut. Defragment secara mudah adalah menata ulang lokasi file di hardisk agar performa komputer meningkat.
Meskipun Windows atau sistem operasi lain sudah menyertakan fitur defragmentasi, ada baiknya kita mencoba menggunakan software pihak ketiga.

Berikut 7 Software gratis defragmenter yang bisa dijadikan alternatif atau pengganti bawaan windows:

Ultra Defrag

Ultra Defrag merupakan software defragmentasi Open source. Tersedia versi installer atau portable, termasuk pula versi Command-line. UKuran software ini cukup kecil, hanya sekitar 277 KB.

 Download Ultra Defrag

MyDefrag

Sebelumnya bernama JKDefrag (Open Source), tetapi sekarang berganti menjadi MyDefrag dan tidak open source, tetapi tetap Freeware. MyDefrag menggunakan teknik seperti yang digunakan Windows, sehingga fitur penuh hanya dapat digunakan oleh user yang mempunyai hak akses administrator.

Support : Windows 2000, 2003, XP, Vista, 2008, Win7
Download MyDefrag

Defraggler

Mungkin sebagian kita tidak asing dengan software CCleaner, nah Defraggler merupakan salah satu software gratis dari pembuat CCleaner. Defraggler menggunakan teknik yang sama seperti windows, tetapi dengan tampilan dan beberapa fitur tambahan lain.

Support : Microsoft Windows 7, Vista, XP, 2003 dan 2000.
Download Defraggler

QuickSys Disk Defrag

QuickSys mungkin masih pendatang baru di bidang ini. Saat artikel ini ditulis, QuickSys Disk Defrag masih versi beta. Tetapi mempunyai fitur yang tidak kalah dengan yang lain, seperti misalnya QSICA (Quicksys Intelligent Clusters Allocation) untuk Optimisasi clusters. Selain versi Installasi, tersedia juga versi Portable.
Support : Windows 2000/XP/2003/Vista/2008/Seven
Download  QuickSys Disk Defrag

Untuk perbandingan mana yang terbaik, AJ sendiri belum sempat mencoba dan mengetes mana yang terbaik. Silahkan berbagi informasi jika sudah atau mencoba salah satu program diatas.









Mengatasi 40 Eror pada Windos XP dengan XP Quick Fix Plus

Ada begitu banyak program gratis windows untuk memperbaiki dan mengembalikan kesalahan umum yang sering terjadi di windows XP. Tetapi ada waktu ketika kita hanya ingin memperbaiki salah satu error windows dengan hanya satu klik saja, seperti misalnya mengembalikan Task Manager atau Registry Editor.
Untuk hal itu, kita bisa menggunakan freeware ini, XP Quick Fix Plus.


XP Quick Fix Plus merupakan program kecil dan portable (tidak perlu install) yang berfungsi untuk memperbaiki kesalahan (error) umum yang sering terjadi di windows XP. Program ini mempunyai tampilan yang sederhana, sehingga sangat mudah digunakan. Disertakan 40 fungsi untuk memperbaiki error umum yang sering terjadi.
Program yang hanya berukuran sekitar 584 KB ini cukup praktis untuk disertakan dalam flashdisk dan dijadikan aplikasi standard. Di antara fitur-fiturnya adalah sebagai berikut (total terdapat 40 fitur):
  • Mengaktifkan task manager yang tidak bisa dijalankan (disabled)
  • Mengaktifkan Registry Editor
  • Mengaktifkan Folder Options
  • Menampilkan Run dialog yang hilang
  • Mengaktifkan command prompt
  • Mengembalikan My Computer Properties
  • Mengembalikan Device Manager
  • Boot.ini tab hilang dari MSCONFOG
  • Error klik kanan windows
  • CD/DVD drive hilang atau tidak dikenali
  • Icon Turn Off hilang dari Start menu
  • Mengaktifkan CD autoplay
Penggunaannya sangat mudah. Setelah di download, buka file zip-nya (extract) dan jalankan file lfx.exe. Ketika mouse di tempatkan di salah satu tombol, maka akan ditampilkan penjelasan dan fungsi lebih detail d bagian bawah. Klik saja tombol tersebut untuk memperbaiki error windows sesuai dengan yang informasi yang diberikan.
Selain meyertakan program dengan antarmuka grafis (GUI = Graphical User Interface), disertakan juga aplikasi command line qfc.exeE yang mempunyai 6 fitur, untuk memperbaiki Task Manager, Registry Editor, Folder Options, Run Dialog, My Computer properties dan tidak bisa menjalankan file-fle EXE.

Bisa download DISINI Gan.

Semoga bermanfaat!

The Morality of Child Labor

From the comfort of their plush offices and five to six figure salaries, self-appointed NGO's often denounce child labor as their employees rush from one five star hotel to another, $3000 subnotebooks and PDA's in hand. The hairsplitting distinction made by the ILO between "child work" and "child labor" conveniently targets impoverished countries while letting its budget contributors - the developed ones - off-the-hook.

Reports regarding child labor surface periodically. Children crawling in mines, faces ashen, body deformed. The agile fingers of famished infants weaving soccer balls for their more privileged counterparts in the USA. Tiny figures huddled in sweatshops, toiling in unspeakable conditions. It is all heart-rending and it gave rise to a veritable not-so-cottage industry of activists, commentators, legal eagles, scholars, and opportunistically sympathetic politicians.

Ask the denizens of Thailand, sub-Saharan Africa, Brazil, or Morocco and they will tell you how they regard this altruistic hyperactivity - with suspicion and resentment. Underneath the compelling arguments lurks an agenda of trade protectionism, they wholeheartedly believe. Stringent - and expensive - labor and environmental provisions in international treaties may well be a ploy to fend off imports based on cheap labor and the competition they wreak on well-ensconced domestic industries and their political stooges.

This is especially galling since the sanctimonious West has amassed its wealth on the broken backs of slaves and kids. The 1900 census in the USA found that 18 percent of all children - almost two million in all - were gainfully employed. The Supreme Court ruled unconstitutional laws banning child labor as late as 1916. This decision was overturned only in 1941.

The GAO published a report last week in which it criticized the Labor Department for paying insufficient attention to working conditions in manufacturing and mining in the USA, where many children are still employed. The Bureau of Labor Statistics pegs the number of working children between the ages of 15-17 in the USA at 3.7 million. One in 16 of these worked in factories and construction. More than 600 teens died of work-related accidents in the last ten years.

Child labor - let alone child prostitution, child soldiers, and child slavery - are phenomena best avoided. But they cannot and should not be tackled in isolation. Nor should underage labor be subjected to blanket castigation. Working in the gold mines or fisheries of the Philippines is hardly comparable to waiting on tables in a Nigerian or, for that matter, American restaurant.

There are gradations and hues of child labor. That children should not be exposed to hazardous conditions, long working hours, used as means of payment, physically punished, or serve as sex slaves is commonly agreed. That they should not help their parents plant and harvest may be more debatable.

As Miriam Wasserman observes in "Eliminating Child Labor", published in the Federal Bank of Boston's "Regional Review", second quarter of 2000, it depends on "family income, education policy, production technologies, and cultural norms." About a quarter of children under-14 throughout the world are regular workers. This statistic masks vast disparities between regions like Africa (42 percent) and Latin America (17 percent).

In many impoverished locales, child labor is all that stands between the family unit and all-pervasive, life threatening, destitution. Child labor declines markedly as income per capita grows. To deprive these bread-earners of the opportunity to lift themselves and their families incrementally above malnutrition, disease, and famine - is an apex of immoral hypocrisy.

Quoted by "The Economist", a representative of the much decried Ecuador Banana Growers Association and Ecuador's Labor Minister, summed up the dilemma neatly: "Just because they are under age doesn't mean we should reject them, they have a right to survive. You can't just say they can't work, you have to provide alternatives."

 Regrettably, the debate is so laden with emotions and self-serving arguments that the facts are often overlooked.

The outcry against soccer balls stitched by children in Pakistan led to the relocation of workshops ran by Nike and Reebok. Thousands lost their jobs, including countless women and 7000 of their progeny. The average family income - anyhow meager - fell by 20 percent. Economists Drusilla Brown, Alan Deardorif, and Robert Stern observe wryly:

"While Baden Sports can quite credibly claim that their soccer balls are not sewn by children, the relocation of their production facility undoubtedly did nothing for their former child workers and their families."

Such examples abound. Manufacturers - fearing legal reprisals and "reputation risks" (naming-and-shaming by overzealous NGO's) - engage in preemptive sacking. German garment workshops fired 50,000 children in Bangladesh in 1993 in anticipation of the American never-legislated Child Labor Deterrence Act.

Quoted by Wasserstein, former Secretary of Labor, Robert Reich, notes:

"Stopping child labor without doing anything else could leave children worse off. If they are working out of necessity, as most are, stopping them could force them into prostitution or other employment with greater personal dangers. The most important thing is that they be in school and receive the education to help them leave poverty."

Contrary to hype, three quarters of all children work in agriculture and with their families. Less than 1 percent work in mining and another 2 percent in construction. Most of the rest work in retail outlets and services, including "personal services" - a euphemism for prostitution. UNICEF and the ILO are in the throes of establishing school networks for child laborers and providing their parents with alternative employment.

But this is a drop in the sea of neglect. Poor countries rarely proffer education on a regular basis to more than two thirds of their eligible school-age children. This is especially true in rural areas where child labor is a widespread blight. Education - especially for women - is considered an unaffordable luxury by many hard-pressed parents. In many cultures, work is still considered to be indispensable in shaping the child's morality and strength of character and in teaching him or her a trade.

"The Economist" elaborates:

"In Africa children are generally treated as mini-adults; from an early age every child will have tasks to perform in the home, such as sweeping or fetching water. It is also common to see children working in shops or on the streets. Poor families will often send a child to a richer relation as a housemaid or houseboy, in the hope that he will get an education."

A solution recently gaining steam is to provide families in poor countries with access to loans secured by the future earnings of their educated offspring. The idea - first proposed by Jean-Marie Baland of the University of Namur and James A. Robinson of the University of California at Berkeley - has now permeated the mainstream.

Even the World Bank has contributed a few studies, notably, in June, "Child Labor: The Role of Income Variability and Access to Credit Across Countries" authored by Rajeev Dehejia of the NBER and Roberta Gatti of the Bank's Development Research Group.

Abusive child labor is abhorrent and should be banned and eradicated. All other forms should be phased out gradually. Developing countries already produce millions of unemployable graduates a year - 100,000 in Morocco alone. Unemployment is rife and reaches, in certain countries - such as Macedonia - more than one third of the workforce. Children at work may be harshly treated by their supervisors but at least they are kept off the far more menacing streets. Some kids even end up with a skill and are rendered employable.

SURAT KETERANGAN STNK DAN BPKB untuk Hutang BANK

 Surat ini biasanya untuk melengkapi administrasi pengajuan hutang ke Bank, biasanya juga disertai dengan SURAT KETERANGAN USAHA . monggo bi...